Menuju Pariwisata Indonesia yang Berkelanjutan, Inklusif, dan Tangguh

Pariwisata Indonesia tengah berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada optimisme pasca-pandemi dengan target jutaan kunjungan wisatawan mancanegara. Di sisi lain, bayang-bayang pariwisata massal yang tidak terkendali (overtourism) mulai mengancam kelestarian lingkungan dan budaya lokal, sebagaimana yang kini mulai dirasakan di beberapa destinasi unggulan.
Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) melalui Kompartemen Riset dan Strategis menyoroti urgensi transformasi paradigma pembangunan pariwisata nasional. Kita tidak bisa lagi hanya terpaku pada metrik kuantitas kedatangan, melainkan harus bergeser pada kualitas pengalaman dan dampak ekonomi yang ditinggalkan.
Tantangan Industri: Lebih dari Sekadar Angka
Data terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: meskipun angka kunjungan naik, rata-rata belanja wisatawan (spending per arrival) justru mengalami stagnasi atau bahkan penurunan di beberapa segmen. Hal ini diperparah dengan fenomena kebocoran ekonomi (economic leakage), di mana keuntungan pariwisata seringkali tidak dinikmati secara optimal oleh masyarakat dan pengusaha lokal pribumi.
"Kita harus melindungi ekosistem industri lokal kita. Jangan sampai destinasi kita hanya menjadi etalase, sementara rantai pasoknya dikuasai oleh pemain asing yang tidak menanamkan modalnya kembali ke daerah," tegas perwakilan HIPPI dalam forum dialog pariwisata nasional baru-baru ini.
"Pariwisata sejati adalah yang mampu mengangkat harkat masyarakat lokal, bukan yang meminggirkan mereka di tanah sendiri."
Visi 2045: Pariwisata Berkelanjutan dan Tangguh
Menuju Indonesia Emas 2045, HIPPI merumuskan tiga pilar utama untuk pariwisata masa depan:
- Berkelanjutan (Sustainable): Integrasi praktik ramah lingkungan dalam setiap aspek operasional pariwisata, dari pengelolaan limbah hingga transisi energi hijau di resor dan desa wisata.
- Inklusif (Inclusive): Pelibatan aktif pengusaha pribumi, UMKM lokal, dan komunitas adat dalam rantai pasok pariwisata, memastikan distribusi kesejahteraan yang merata.
- Tangguh (Resilient): Pemanfaatan teknologi (Tourism 5.0) dan diversifikasi pasar (seperti membidik diaspora Barat di Asia) untuk membangun industri yang tahan terhadap krisis global di masa depan.
Transformasi ini bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan mendesak. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha yang tergabung dalam HIPPI, dan masyarakat lokal adalah kunci untuk mewujudkan pariwisata Indonesia yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga kuat berakar dan memakmurkan warganya.